Apresiasi terhadap pementasan drama "Nilam Sari" dan "Petang di Taman"
Pementasan drama oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia diselenggarakan selama dua hari. Pada hari pertama sejumlah judul naskah telah dipentaskan (baca ulasannya
di sini). Sementara pada hari kedua, terdapat lima kelompok yang menampilkan naskah sesuai tafsiran mereka dan dua di antaranya ialah "Nilam Sari" karya Wisran Hadi dan "Petang di Taman" karya Iwan Simatupang.
Pementasan 1: Nilam Sari
 |
| Nilam Sari dan Ameh Dunia sedang bercengkerama |
Kerumitan Cinta yang Terhalang Adat (?)
Drama yang disutradarai oleh Oktafia Ramadani ini berkisah tentang seorang perempuan, Nilam Sari (diperankan oleh Jihan Suri Fadhilah), yang merisaukan hati orang tuanya sebab belum mendapatkan jodoh. Seperti halnya orang tua zaman dulu, Nilam Sari hendak dijodohkan dengan seseorang pilihan Rajo Tuo, ayah Nilam Sari (diperankan oleh Nur Husna Putri). Walaupun ibu Nilam Sari, Linduang Bulan (diperankan oleh Suci Ramandha Putri), mencoba memberikan pengertian tentang perasaan anaknya, kerasnya hati Rajo Tuo tidak dapat dibendung.
Nilam Sari yang menolak perjodohan itu memancing kecurigaan ayahnya: apakah Nilam Sari sedang dekat dengan seseorang? Dugaan ayahnya benar. Nilam Sari tengah menjalin hubungan dengan Ameh Dunia (diperankan oleh Ghufron Sukma Asri), seorang mahasiswa KKN di nagari itu. Sekalipun rekan KKN-nya, Puti Bungsu (diperankan oleh Nurhalima Putri), menjaga rahasia mereka, hubungan tersebut ketahuan juga. Namun, sebuah kebenaran lantas disampaikan oleh Paladang (diperankan oleh Zahra Hamida) bahwa Ameh Dunia merupakan anak dari mamak Nilam Sari. Perempuan itu terpukul sebab hubungan mereka tidak dapat diteruskan.
Setelah pementasan drama ini selesai, saya kemudian baru menyadari satu hal: bukankah, di Minangkabau, menikah dengan anak mamak diperbolehkan (pulang ka mamak)?
Penataan Cahaya dan Properti
Saya terkesan dengan penataan panggung dan cahaya dalam drama ini. Di atas panggung terdapat dua latar, yaitu ruang tamu tempat berkumpulnya keluarga Rajo Tuo dan tanah lapang tempat bertemunya Nilam Sari dan Ameh Dunia. Keberadaan dua latar dalam satu panggung ini membutuhkan bantuan pencahayaan yang tepat. Saat adegan di ruang tamu berlangsung, latar yang lain perlu digelapkan sehingga penonton bisa fokus menonton adegan tersebut. Penataan cahaya seperti ini--yang menurut saya elemen paling sulit dalam pementasan drama karena tidak dapat dilatih saat proses latihan--membuat pementasan drama dipertunjukkan dengan baik dan berbeda dari yang lain.
Drama ini juga didukung oleh properti yang pas. Ruang tamu diwujudkan dengan susunan sofa dan meja yang menunjukkan keluarga Rajo Tuo yang berada. Sementara itu, tanah lapang hanya ditandai dengan pohon dan bangku sehingga adegan akhir dapat memuat banyak aktor di sana. Hal lain yang patut diapresiasi ialah keseimbangan warna kostum yang juga membuat visual pementasan ini menjadi menarik.
 |
| Suasana ruang tamu di rumah Nilam Sari |
Keaktoran yang Dipertaruhkan
Aktor yang terlibat di dalam pementasan drama ini telah tampil secara maksimal, termasuk tokoh figuran, Upiak (diperankan oleh Fitri Mutmainah), yang mengundang gelak tawa penonton. Namun, terdapat dua aktor yang cukup mempertaruhkan kesempuranaan drama ini sebab aktor laki-laki diperankan oleh perempuan, yaitu Rajo Tuo dan Paladang. Tentu tidak mudah bagi perempuan memerankan tokoh laki-laki karena perlu menyesuaikan riasan, gestur, apalagi suara. Namun, kekhawatiran itu hilang saat menonton pertunjukan yang mengadaptasi karya Wisran Hadi ini. Rajo Tuo dan Paladang diperankan dengan sangat baik tanpa sedikit pun tersilap menggunakan gestur atau suara perempuan.
Beruntungnya, semua aktor bersinergi untuk menampilkan pertunjukan yang membuat penonton terhanyut dalam cerita. Menjelang akhir cerita, saat konflik memuncak hingga menuju penyelesaian, penghayatan dari masing-masing aktor masih konsisten. Diiringi dengan musik penutup, barangkali bukan hanya saya yang hampir menitikkan air mata saat menontonnya.
 |
| Paladang menyampaikan kabar yang tidak ingin didengar oleh Nilam Sari |
Terima kasih kepada sutradara dan semua pemain (yang telah disebutkan sebelumnya) serta kru yang bertugas: Sukratul Fazira, Zaskia Rama Dina (penata musik); Sasta Arieni, Etri Dwi Amanda (penata busana); Sherly Dwi Febriza, Jessika Putri (penata rias); Ririn Komala Sari, Naila Ulfya Aziza (desain properti); Salwa Lovesa, Raudatul Padia (penata cahaya). Terus belajar, ya!
Pementasan 2: Petang di Taman
 |
| Orang Tua dan Perempuan Separuh Baya di taman |
Kesedihan dalam Wujud yang Berbeda-beda
"Petang di Taman" merupakan drama yang memperlihatkan empat orang yang tidak saling mengenal justru terikat di sebuah taman dengan membawa masalah mereka masing-masing: Orang Tua (diperankan oleh Alsinora Wisna) dengan kesepiannya setelah ditinggal oleh suami, Perempuan Separuh Baya (diperankan Zahwanatul Alfioni) dengan kegagalannya menjadi pengarang, Penjual Balon (diperankan oleh Shovi Shafitri) yang kehilangan kenangan, dan Wanita (diperankan oleh Khoirotunnisa) yang mengasihani dirinya sendiri. Mereka waktu di taman menjelang petang. Pementasan drama yang disutradarai oleh Zulfa Nahdhiana Fauziyah ini mengingatkan saya bahwa zaman telah banyak berubah.
Masihkah ada orang yang saling peduli di taman? Taman dalam drama ini ibarat laman media sosial sekarang. Kita bebas bercerita bahkan kepada orang yang tidak dikenal; orang lain ikut mengomentari seakan kita dan mereka berteman; yang lain bahkan mudah saja menghakimi kehidupan yang hanya dilihat dari tayangan video. Pementasan ini juga menambah sentuhan yang berbeda dengan kehadiran banyak aktor pendukung, seperti Mahasiswa (diperankan oleh Jenny Yelia Citra), Perawat Taman (Ratih Saputri), Penjual Jamu (Assyifa Faradhilla), dan Pekerja Kantoran (Silsilia Praba Ningsih). Kehadiran para figuran ini mempertegas bahwa di taman masih banyak orang yang saling peduli.
Penataan Panggung dan Improvisasi Aktor
Tidak banyak elemen di atas panggung. Untuk mewujudkan sebuah taman, di tengah panggung terhadap kursi panjang sebagai pusat cerita. Selain itu, hanya ada pot bunga di sisi depan kiri-kanan panggung dan penunjuk sarah. Sebagai tambahan, terdapat rumput yang dibuat dari karton berlapis kertas hijau. Sayangnya, rumput buatan ini sedikit membuyarkan kesan taman untuk sebuah pementasan teater. Menurut saya, properti seperti itu lebih sesuai jika digunakan di atas untuk pertunjukan yang dimainkan anak-anak.
Terlepas dari penataan panggung yang perlu diperbaiki, saya terkesan dengan improvisasi yang dilakukan oleh para aktor--setidaknya saya mengira itu tidak ada dalam skrip. Pertama, adegan Perempuan Paruh Baya membuka botol minuman soda pertama kali. Adegan ini lucu jika diperhatikan sebab soda dari minuman itu menyembur dan membasahi celananya, tetapi dengan kondisi itu, Perempuan Paruh Baya tampak tenang dan melanjutkan dialog dengan semestinya. Kedua, adegan balon yang terlepas dari tangan Orang Tua. Dengan tetap memainkan ekspresi, Orang Tua mengambil balon tersebut dan memasangkannya kembali agar terikat dengan tangkainya, lantas tersenyum senang saat balon kembali terpasang. Ketiga, adegan Penjual Balon meminta Orang Tua dan Perempuan Paruh Baya untuk menggeser posisi duduk mereka agar kursi taman cukup untuk menampung mereka bertiga. Saya melihat improvisasi dilakukan oleh para aktor dengan tenang sehingga terlihat seperti tidak terjadi kesalahan di atas panggung.
 |
| Orang-orang di taman dengan permasalahannya masing-masing |
Adaptasi Naskah yang Berisiko
Banyak penambahan aktor dalam naskah yang diadaptasi dari karya Iwan Simatupang ini. Sutradara menambahkan empat pemain seperti yang telah dijelaskan sebelumnya sebagai aktor pendukung. Penambahan ini sebenarnya dapat berisiko jika tidak diekseskusi dengan tepat. Aktor yang terlalu banyak dapat mengacaukan penataan panggung jika tidak menerapkan blocking dengan baik. Selain itu, cara masuk dan keluarnya juga perlu dipertimbangkan oleh sutradara agar tetap terlihat natural sesuai alur cerita. Namun, kekhawatiran itu dapat ditutupi dengan baik oleh penampilan keempat aktor pendukung tersebut.
Keempat figuran ini mampu memaksimalkan penampilan mereka dengan tetap berpusat pada inti cerita. Perawat Taman, misalnya, selain menjadi bagian dari taman, ia juga menjadi penyebab balon si Penjual Balon terbang. Selain itu, kehadiran Mahasiswa, Penjual Jamu, dan Pekerja Kantoran di atas panggung mempertegas bahwa antarindividu masih memiliki kepedulian. Artinya, sesingkat apa pun kemunculannya dalam pementasan, jika tampil secara maksimal, aktor pendukung pun dapat menyatu dengan alur cerita dalam drama sehingga tidak terjadi ketimpangan.
 |
| Sentuhan akhir yang tidak tertulis dalam naskah |
Terima kasih kepada sutradara dan semua pemain (yang telah disebutkan sebelumnya) serta kru yang bertugas: Della Febrina (penata musik); Rezi Wahyu Putri, Vanisa Nurul Kayla (penata busana); Putri Dwi Artika (penata rias); Sylvi Nadilla, Wifa Septya, Via Putri Rindiani (desain properti); Nuraini Afriani (penata cahaya). Terus belajar, ya!
Refleksi Mata Kuliah Apresiasi Drama Indonesia
Ini merupakan kedua kalinya kami mengadakan pementasan drama sebagai projek akhir mata kuliah. Proses pembelajaran dibagi dalam dua fokus: sebelum UTS mahasiswa mempelajari teori drama dan praktik analisis naskah; setelah UTS mahasiswa mempelajari teori pertunjukan teater dan berlatih dalam kelompok.
Selama dua bulan mahasiswa mempersiapkan pementasan drama: mengenal olah vokal, olah rasa, dan olah tubuh; menafsirkan naskah dalam bentuk dialog; berinteraksi dengan sesama pemain; mengatur properti, musik, dan busana serta riasan. Pada akhirnya, pementasan berhasil dilaksanakan sebagai hasil kerja keras mereka.
Silakan tulis refleksi Anda terhadap mata kuliah ini di kolom komentar!
Pementasan "Nilam Sari" dan "Petang di Taman" sama-sama memberikan pengalaman menonton yang menarik karena didukung oleh penghayatan tokoh yang kuat, kerja sama antarpemain yang baik, serta penataan panggung yang mendukung jalannya cerita. "Nilam Sari" berhasil menyajikan konflik cinta dan adat yang menyentuh, sedangkan "Petang di Taman" menghadirkan refleksi tentang kehidupan, kesepian, dan kepedulian sosial yang dekat dengan realitas. Secara keseluruhan, kedua pementasan menunjukkan kreativitas, kesungguhan, dan hasil latihan yang matang sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton.
BalasHapusSetelah lebih kurang 4 bulan saya mengikuti kelas Apresiasi Drama Indonesia, banyak sekali pembelajaran, pengalaman, dan pemahaman baru yang saya peroleh. Kelas ini bukan hanya tempat untuk duduk dan memahami teori, tapi benar-benar menjadi proses panjang yang melatih mental, cara merasakan peran, kerja sama tim, hingga kreativitas kami dalam menghidupkan sebuah naskah cerita ke atas panggung.
BalasHapusMenonton pertunjukan naskah "Nilam Sari" karya Wisran Hadi dan "Petang di Taman" karya Iwan Simatupang sebagai tugas akhir semester ini rasanya seperti puncak dari semua materi yang sudah kita pelajari sama-sama. Kedua pementasan ini memberikan gambaran yang luar biasa tentang bagaimana sebuah karya sastra bisa terasa hidup dan "berbicara" langsung kepada penonton melalui panggung.
Pada pementasan "Nilam Sari", saya mengapresiasi keberanian sutradara dan totalitas para pemainnya. Khususnya peran Rajo Tuo dan Paladang yang dimainkan oleh perempuan, tapi mereka bisa membawakannya dengan sangat meyakinkan tanpa kehilangan karakter laki-lakinya. Pengaturan lampu yang memisahkan dua latar tempat (ruang tamu dan tanah lapang) juga membuktikan kalau kreativitas panggung teman-teman sudah matang. Rumitnya konflik cinta dan adat Minangkabau telah berhasil disampaikan dengan baik.
Sementara itu, pementasan "Petang di Taman" memberikan sindiran yang sangat cocok dengan kehidupan zaman sekarang. Keputusan berani sutradara untuk menambah tokoh figuran seperti Mahasiswa, Perawat Taman, sampai Pekerja Kantoran justru memperkuat pesan sosial tentang pentingnya peduli sesama di tengah dunia yang semakin cuek. Selain itu, kemampuan improvisasi para pemain saat menghadapi kendala teknis yang tidak terduga di atas panggung menunjukkan kalau mental teman-teman di teater ini sudah sangat keren dan tenang.
Adanya proyek akhir ini, membuat saya semakin sadar jika sebuah pertunjukan teater tidak akan bisa sukses kalau cuma mengandalkan satu orang saja. Keberhasilan acara ini adalah buah dari kerja keras dan kekompakan seluruh tim, mulai dari sutradara, aktor, tim musik, tim lampu, tim tata busana, tim tata rias, hingga tim dekorasi panggung.
Terima kasih banyak untuk dosen pengampu Dr. Dewi Syafrina, S.Pd., M.Pd., teman-teman, dan seluruh kru pementasan yang sudah berproses bersama-sama selama ini. Empat bulan ini sudah mengajarkan saya bahwa mengapresiasi drama artinya kita belajar memahami manusia dan segala isi hatinya. Mari kita terus belajar dan berkembang!
Mata kuliah Apresiasi Drama Bahasa Indonesia memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. karena saya tidak hanya mempelajari teori mengenai drama, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam proses pementasan yang mengajarkan kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, serta keberanian dalam mengekspresikan diri dan di pementasan ini juga saya perdana menjadi MC non formal, walaupun banyak kesalahan yang mungkin saya lakukan selama acara.
BalasHapusDi sini saya juga ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada ibu Dewi Syafrina selaku dosen pengampu mata kuliah apresiasi drama bahasa Indonesia Kelas B yang tidak hanya mendukung kami dalam proses pelatihan untuk pementasan drama ini, tetapi juga memberikan motivasi, dan semangat kepada kami hingga akhir. Kesabaran, perhatian, dan kepercayaan yang diberikan kepada kami membuat pengalaman dalam mata kuliah ini sangat berkesan dan memberikan banyak pelajaran berharga bagi kami semua.
Setelah menyaksikan pementasan drama "Nilam Sari" karya Wisran Hadi dan "Petang di Taman" karya Iwan Simatupang ini ditayangkan, saya mendapat pengamalan dan pembelajaran, bahwa dalam pementasan itu kita harus belajar mengekspresikan diri, olah vokal dan olah rasa, drama nilam sari memberikan gambaran konflik adat dan terhalang oleh aturan orang tua, dan drama petang di taman mengajarkan bahwa setiap orang memiliki masalah dan kesedihannya masing-masing, tetapi tetap peduli .dan saya sebagai kru musik juga menyadari pertama kali dalam pementasan ini merasa tidak terlalu sempurna dalam mengatur musik. dan saya juga menyadari bahwa keberhasilan pertunjukan drama ini tidak ditentukan oleh naskah tetapi kerja sama seluruh tim, mulai dari sutradara ,aktor dan juga kru yang bertugas sebagai penata musik, penata cahaya, penata panggung (properti) dan penata rias. dapat saya simpulkan ,kedua pementasan ini memberikan pengalamn menonton yg berkesan serta menambah wawasan saya mengenai seni pertunjukan drama.
BalasHapusSetelah menyaksikan pementasan drama "Nilam Sari" karya Wisran Hadi dan "Petang di Taman" karya Iwan Simatupang ini ditayangkan, saya mendapat pengamalan dan pembelajaran, bahwa dalam pementasan itu kita harus belajar mengekspresikan diri, olah vokal dan olah rasa, drama nilam sari memberikan gambaran konflik adat dan terhalang oleh aturan orang tua, dan drama petang di taman mengajarkan bahwa setiap orang memiliki masalah dan kesedihannya masing-masing, tetapi tetap peduli .dan saya sebagai kru musik juga menyadari pertama kali dalam pementasan ini merasa tidak terlalu sempurna dalam mengatur musik. dan saya juga menyadari bahwa keberhasilan pertunjukan drama ini tidak ditentukan oleh naskah tetapi kerja sama seluruh tim, mulai dari sutradara ,aktor dan juga kru yang bertugas sebagai penata musik, penata cahaya, penata panggung (properti) dan penata rias. dapat saya simpulkan ,kedua pementasan ini memberikan pengalamn menonton yg berkesan serta menambah wawasan saya mengenai seni pertunjukan drama.
BalasHapusPementasan drama pada mata kuliah Apresiasi Drama Indonesia menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Melalui proses latihan, persiapan, hingga pelaksanaan pementasan, saya belajar banyak hal, tidak hanya tentang seni peran dan pementasan, tetapi juga tentang kerja sama, tanggung jawab, serta komunikasi dalam sebuah tim.
BalasHapusSaya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dewi Syafrina selaku dosen pengampu yang telah dengan sabar membimbing, mengarahkan, dan memberikan masukan kepada kami selama proses persiapan hingga pementasan berlangsung. Berkat arahan dan dukungan Ibu, kami mampu menampilkan drama dengan lebih baik dan percaya diri di atas panggung.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada seluruh teman-teman yang telah bekerja sama dan saling menguatkan selama proses berlangsung. Kepada sutradara yang telah memimpin dan mengarahkan jalannya latihan, para pemain yang berusaha memberikan penampilan terbaik, serta seluruh kru yang bekerja di balik layar dengan penuh dedikasi, terima kasih atas kerja keras dan komitmennya. Setiap individu memiliki peran penting yang membuat pementasan ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa keberhasilan sebuah pementasan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kekompakan, saling percaya, dan kerja sama seluruh tim. Semoga pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh dari pementasan ini dapat menjadi bekal yang bermanfaat untuk kegiatan akademik maupun kehidupan di masa mendatang. Terima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan dan keberhasilan pementasan drama ini.
Setelah pertemuan Ujian Tengah Semester, pembagian kelompok dilakukan. Mulailah latihan, persiapan dan segala bentuk komitmen selama 2 bulan berlangsung. Tidak ada konflik terjadi karena kelompok sudah terbaik, saling percaya satu sama lain, dan saling kerja sama, menyampaikan kritik dan saran yang membangun motivasi kelompok untuk menampilkan yang terbaik.
BalasHapusTerimakasih banyak ibu Dewi Syafrina, karena sudah memberi wadah untuk berekspresi, serta belajar cara mengapresiasi suatu naskah drama secara ditampilkan pada panggung, dengan iringan latar, kostum, musik, pencahayaan sebagai pendukung sehingga kita dapat merasakan emosi jalannya isi cerita. Ini menjadi pengalaman pribadi saya untuk pertama kalinya tampil di hadapan orang banyak.
Ternyata apa yang saya pikirkan sama halnya dengan pernyataan ibu, setelah saya melakukan penampilan, saya baru sadar bukankah di Minangkabau ini boleh saja menikah dengan anak mamak?
Dari awal persiapan pementasan drama ini sampai pada hari pementasan kurang lebih dalam waktu 2 bulan memberikan saya begitu banyak pengalaman dan pelajaran bukan hanya sekedar belajar dan memahami mata kuliah Apresiasi Drama Indonesia, namun saya juga belajar bahwa sebuah pohon yang berbunga belum tentu akan berbuah. Namun pohon yang sering dipupuk meskipun belum berbunga pasti akan menghasilkan buah yang bagus dan membuat pohon menjadi lebih subur.
BalasHapusBegitu juga dengan kerjasama tim, kelompok yang sering diasah dan dilatih akan terlihat hasilnya seberapa besar perjuangan mereka. Sebagaimana posisi saya yang dipercayai oleh banyak orang terutama dosen pengampu mata kuliah ini membuat saya tersadar bahwa ada hal lain yang lebih penting dari pemahaman, tetapi juga kekompakan dan kesabaran dalam sebuah tim. Kami mengucapkan terimakasih Ibu telah mengadakan proyek akhir pementasan drama pada mata kuliah ini, karna dari sini kami belajar banyak dan tentunya tidak akan pernah terlupakan dan menjadi salah satu pengalaman terbaik di masa kuliah, baik dari segi pemain, crew, maupun yang saya rasakan sendiri yaitu menjadi seorang sutradara. Kesempatan ini sungguh memberikan arti yang berkesan dan menghasilkan kesan yang baik pula untuk kami
Pementasan drama Nilam Sari memberikan pengalaman yang berkesan bagi saya. Drama ini tidak hanya menyajikan konflik tentang cinta dan adat yang menarik, tetapi juga menampilkan kerja sama tim yang sangat baik. Penataan panggung, pencahayaan, kostum, serta kemampuan para pemain dalam menghidupkan tokoh membuat pementasan berjalan dengan baik dan mampu mengundang emosi penonton.
BalasHapusSaya belajar bahwa keberhasilan sebuah pementasan tidak hanya bergantung pada pemain di atas panggung, tetapi juga pada kerja keras seluruh kru yang bekerja di balik layar. Setiap bagian memiliki peran penting untuk menciptakan pertunjukan yang menarik dan bermakna.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dewi Syafrina selaku dosen pengampu yang telah membimbing dan memberikan arahan selama proses persiapan hingga pementasan berlangsung. Terima kasih juga kepada sutradara, para pemain, serta seluruh kru yang telah bekerja sama dengan penuh semangat dan tanggung jawab. Semoga pengalaman ini menjadi pembelajaran yang berharga dan dapat memotivasi kami untuk terus berkarya dengan lebih baik di masa mendatang.