Menyelami Diri Sendiri hingga Menemukan Tempat Pulang

 Apresiasi terhadap pementasan drama "Petang di Taman", "Preh", dan "Pada Suatu Hari"


Sebagai bagian akhir dari mata kuliah Apresiasi Drama Indonesia, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang menampilkan pementasan drama. Setelah melewati proses latihan yang panjang, mereka mempertunjukkan hasil tafsiran naskah yang dipilih ke atas panggung. Terdapat 13 kelompok yang menampilkan drama selama dua hari. Tiga di antaranya, berjudul "Petang di Taman" karya Iwan Simatupang, "Preh" karya Asma Nadia, dan "Pada Suatu Hari" karya Arifin C. Noer yang ditampilkan pada hari pertama. Dalam tulisan ini, akan dibahas evaluasi saya terhadap ketiga pementasan tersebut.


Pementasan 1: Petang di Taman

Lelaki Paruh Baya dan Orang Tua berada di taman
ketika guruh menggelegar


Taman Ibarat Media Sosial Zaman Sekarang

Pementasan drama yang disutradarai oleh Nadia Zulfahrita Putri ini bercerita tentang empat orang asing yang bercengkerama di taman kala petang. Mulanya, taman begitu riuh oleh orang-orang yang berolahraga, sekadar berswafoto, atau duduk-duduk santai. Namun, keriuhan itu satu per satu terusir oleh sosok Orang Tua (diperankan oleh Ginta Agustina) yang usil mengganggu orang-orang. Adegan ini merupakan langkah yang cerdas untuk 'melengangkan' panggung sehingga dialog inti dapat dimulai.

Pada awalnya, terjadi perbincangan antara Orang Tua dan Lelaki Separuh Baya (diperankan oleh Gilang Anugrah) yang mempersoalkan cuaca. Kemudian seorang Penjual Balon (diperankan oleh Muhammad Alhadi Pratama) datang dan memberikan sebuah balon kepada Orang Tua. Penjual Balon lantas menangis karena balonnya yang lain terbang. Ketika ketiga orang itu mengobrol, tiba seorang Wanita (diperankan oleh Eza Oktaviany) bersama bayi di stroller-nya. Wanita menginginkan balon yang ada di tangan Orang Tua, tetapi orang tua itu dengan sengaja meletuskannya. Dor! Hal-hal di luar kendali kemudian terjadi Dan membuat suasana taman menjadi riuh kembali karena empat orang itu. Lantas, bagaimanakah cerita ini akan diakhiri?

Adegan empat orang di atas panggung ini mengingatkan saya kepada riuhnya media sosial. Taman menjadi tempat pertemuan orang yang tidak saling mengenal, tetapi bisa saling mengobrol, mengomentari orang lain, hingga tahu tentang kehidupannya. Petang menyimbolkan keheningan setelah manusia sibuk dengan aktivitas hariannya. Di taman muncul orang-orang dengan berbagai masalah yang ia miliki: kehilangan kenangan, jati diri, bahkan tempat tinggal. Bukankah itu pula yang kita lihat di media sosial sekarang?


Orang-orang pada Petang di Taman

Penataan Panggung dan Posisi Pemain (Blocking)

Layaknya sebuah taman, di tengah panggung terdapat sebuah bangku kayu putih yang menjadi pusat tontonan. Sebagai pembatasnya, berdiri dua bilah pagar kayu yang juga berwarna putih. Dengan penambahan lampu taman di setelah bangku, properti ini benar-benar mencirikan sebuah taman pada umumnya. Seperti sungguhan! 

Para aktor bermain di area yang cukup lapang. Penentuan posisi pemain juga dipermudah dengan jumlah pemeran yang hanya empat orang. Di pementasan ini sutradara dengan cerdas mengarahkan aktor untuk menguasai seluruh titik panggung. Di sisi kiri depan terdapat stage riser (panggung tambahan) untuk mempertinggi posisi aktor. Penggunaan stage riser juga membantu memunculkan bunyi-bunyi tambahan dari hentakan kaki sehingga gerakan yang dilakukan aktor juga dapat memancing perhatian penonton.  Selain itu, di bagian tengah taman yang lapang juga dimanfaatkan oleh aktor untuk memainkan konflik (misalnya saat Wanita dan Penjual Balon saling berkejaran). Posisi pemain seperti ini membuat panggung menjadi seimbang.


Balon menyimbolkan sumber kebahagiaan seseorang
yang tidak mudah dipahami oleh semua orang


Karakter-Karakter yang Menguatkan

"Petang di Taman" dibangun oleh karakter-karakter yang menguatkan cerita. Ginta Agustina memerankan Orang Tua dengan penjiwaan yang penuh: nenek yang menyebalkan, tetapi juga lucu. Hal ini didukung pula dengan riasan dan kostum yang sesuai. Karakter Orang Tua disambut oleh Lelaki Separuh Baya yang selalu berseberangan dengan ucapan dan tingkah laku Orang Tua--walaupun sesekali mereka bersatu pula. Interaksi mereka di awal cerita menegaskan bahwa di taman bisa saja terjadi obrolan yang tidak begitu penting, tetapi memunculkan konflik, apalagi saat aktor selanjutnya masuk.

Karakter Wanita diwujudkan dengan tepat. Ia menggambarkan seorang perempuan yang kehilangan diri setelah melahirkan anak tanpa tahu sosok ayah dari anak itu sehingga si Penjual Balon tertuduh telah berbuat hal tidak senonoh. Karakter Penjual Balon sepertinya sengaja dibentuk oleh sutradara sebagai laki-laki dewasa yang kekanak-kanakan. Hal ini terlihat dari gestur dan kostum yang digunakan oleh aktor serta diselaraskan dengan kecintaannya terhadap balon (walaupun penyuka balon tidak harus berjiwa anak-anak). Namun, Muhammad Alhadi sebagai pemeran Penjual Balon mengambil peran ganda di adegan penutup. Ia muncul kembali dengan karakter dan kostum yang berbeda untuk menampilkan gerakan tarian bersama seorang perempuan (diperankan oleh Firna Yulia Amanda). Penonton bisa saja menganggap si lelaki merupakan karakter yang sama dengan Penjual Balon. Jika iya, akan muncul pertanyaan: bukankah sebelumnya ia berkarakter kekanak-kanakan? Namun, bisa jadi tidak, sebab kostum Dan gestus sudah berganti. Pemeranan di adegan terakhir inilah yang masih perlu disempurnakan untuk menegaskan karakter pemain. 


Adegan penutup yang menegaskan bahwa segala kejadian
dapat terjadi di sebuah taman.


Terima kasih kepada sutradara dan semua pemain (yang telah disebutkan sebelumnya) serta kru yang bertugas:  Imtiyaz Ruaida Yezet (penata musik);  Amilia Putri, Lista Togatorop (penata busana);  Fani Sundary, Kalisah Ramadani (penata rias); Fitria, Elzi Rahmah Liza, Nela Watil Fajri (desain properti);  Annisa Ul Rahmah, Fitri Yeni (penata cahaya). Terus belajar, ya!

Tonton "Petang di Taman" di sini!


Pementasan 2: Preh

Mak merenung di depan rumah menanti anak lelakinya kembali 


Situasi Dilematis di Tengah Bencana

Drama ini menceritakan tentang kondisi sebuah keluarga setelah terjadinya tsunami di Aceh. Setelah bencana, dalam keluarga ini hanya tersisa Mak (diperankan oleh Nadisya Dwi Azzahra), Bibah (Dzakiyatul Farhati), dan Limah (Laura Aprisa Fitri). Sementara itu, anak pertama Mak telah hilang dan itu membuat Mak enggan meninggalkan kampung mereka. Dari sanalah perseteruan kakak-beradik terjadi. 

Di bawah penyutradaraan Dewi Sartika, naskah karya Asma Nadia ini ditafsirkan dengan baik. Drama ini menitikberatkan kondisi dilematis yang dirasakan oleh para penyintas tsunami: pergi meninggalkan tanah kelahiran dan melanjutkan kehidupan yang baru atau menetap demi menunggu kehadiran anggota keluarga? Kehadiran Zein (diperankan oleh Dian Mawaddah Naibaho) turut membuat hati Bibah ricuh sebab ia semakin merasa tidak memiliki kepastian masa depan, sementara adiknya diperhatikan oleh seorang lelaki.


Zein menyampaikan kabar kepada Limah dan Bibah


Penataan Cahaya dan Busana

Pencahayaan merupakan salah satu unsur pementasan yang sangat berpengaruh terhadap tampilan di atas panggung. Sorot cahaya di momen yang tepat dapat mendukung pemahaman penonton terhadap cerita. Dalam pementasan "Preh" cahaya redup lebih banyak digunakan untuk menciptakan suasana sendu pascabencana. Selain itu, pergantian babak ditandai dengan pentas yang gelap. Namun, saat adegan di babak baru dimulai kembali, beberapa kali cahaya pentas terlambat menyala. Begitu juga di bagian akhir, cahaya tidak segera meredup sebagai pertanda pementasan telah berakhir. Memang, penataan cahaya cukup sulit sebab saat proses latihan mahasiswa tidak pernah mengetahui cara penataan cahaya untuk pementasan yang sesungguhnya.

Selain cahaya, busana juga menjadi bagian penting untuk mendukung keaktoran. Tata busana juga perlu disesuaikan dengan latar cerita. Gaya busana para pemain sudah tepat, yaitu berbaju muslim karena menggambarkan suasana di Aceh. Baju yang sedikit berkilau dan berwarna mungkin tidak menjadi persoalan untuk sebuah latar pascabencana (barangkali memang hanya itu baju yang tertinggal). Namun, jika dilihat lebih detail, gaya Limah dan Bibah berkerudung kurang sesuai. Di tengah kewaspadaan mereka terhadap gempa susulan, mungkinkah mereka masih sempat bersolek dengan mengenakan kerudung lilit?--bahkan jarum pentul pun bisa saja sudah tidak ada di rumah mereka. 


Adegan Pencair Suasana

Pementasan drama "Preh" tidak hanya mempertunjukkan ketegangan dan kepanikan karena bencana yang tiba di tanah mereka. Di tengah babak, muncul beberapa warga yang berlarian (diperankan oleh Arwa Frista, Aulia Nurhasanah, Hanifah Rifkia Zain, Hapsah Zani, Kisra Salsabila) dan juga pemulung (diperankan oleh Ginta Indah Cahyani) yang lantas tergiur mencuri tas berisi pakaian Bibah. Kemunculan figuran ini menjadi pencair suasana yang mengundang kelak tawa penonton. Hal ini menunjukkan pemain figuran pun bisa tampil maksimal untuk mendukung kesatuan pementasan di atas panggung.

Kemunculan pemulung menjadi pencair suasana
di tengah panasnya perseteruan Limah dan Bibah


Terima kasih kepada sutradara dan semua pemain (yang telah disebutkan sebelumnya) serta kru yang bertugas:  Gadiza Izdihar, Manja Amanda (penata musik); Aulia Nurhasanah, Fani Marda Putri, Gita Indah Cahyani, Bunga Cahaya Murni (penata rias dan busana); Nabila Aufa Zahira Hanifah Rifkia Zain (desain properti); Fani Marda Putri, Hasnah Fauziah (penata cahaya). Terus belajar, ya!

Tonton "Preh" di sini!


Pementasan 3: Pada Suatu Hari


Kakek dan Nenek baru saja merayakan pernikahan emas mereka


Kebenaran Abu-Abu dalam Rumah Tangga

Pada suatu hari Kakek (diperankan oleh Damar Maulana) dan Nenek (diperankan oleh Mila Selvia Ningsih) merayakan usia pernikahan mereka yang ke-50. Namun, pernikahan yang sudah begitu lama tidak membuat mereka terhindar dari masalah api cemburu. Kehadiran Nyonya Wenas (Siti Rahmah Yani) di tengah mereka membuat Nenek tiba-tiba minta cerai. 

Di tengah permasalahan Kakek dan Nenek tersebut, anaknya Novia (diperankan oleh Nauratil Jannah) juga ingin menggugat suaminya untuk bercerai. Kakaknya, Nita (diperankan oleh Aiga Silviani Aditama) sudah berkali-kali memberikan nasihat. Ayahnya pun memperingatkan bahwa Novia juga harus memikirkan nasib anaknya (diperankan oleh Amelia Maharani). Di bawah penyutradaraan Dwi Febriyani, drama yang diadaptasi dari naskah karya Arifin C. Noer ini menyoroti permasalahan yang terjadi di rumah tangga karena kebenaran yang abu-abu dan hanya menimbulkan banyak prasangka.


Nenek dan anaknya menghadapi permasalahan rumah tangga yang sama


Penataan Panggung dan Riasan

Drama ini berpusat di ruang tamu sebagai latar cerita. Sofa dan meja tertata di tengah panggung. Penambahan foto keluarga dan foto pernikahan membuat suasana rumah orang berada semakin nyata. Dengan penataan properti demikian, panggung juga menjadi simetris dan siap mengantarkan cerita kepada penonton.

Bagian yang lebih mengesankan ialah riasan dan busana para aktor. Dalam drama ini, terdapat tiga generasi dan riasan aktor telah menunjukkan perbedaan itu. Riasan paling menonjol tentu Kakek dan Nenek. Kerut wajah dan rambut putih dirias dengan sangat pas. Riasan anak dan cucunya juga tampak sesuai sehingga penonton dapat membedakan perbedaan generasi mereka. Begitu pula dengan busana tokoh figuran juga sesuai dengan profesi mereka.


Perhatian yang Terbagi Dua

Drama "Pada Suatu Hari" menyajikan satu permasalahan rumah tangga yang dialami oleh dua keluarga, yaitu perceraian. Permasalahan Kakek-Nenek disebabkan kecemburuan Nenek kepada seorang janda; permasalahan Novia dan suami muncul setelahnya. Namun, permasalahan mereka seolah terpisah; konflik yang dialami Kakek-Nenek di bagian awal seperti terlupakan saat anaknya juga membahas perceraian. Hal ini terjadi karena penceritaan di atas panggung dirasa terlalu tergesa-gesa. 

Adegan Kakek-Nenek kurang tersorot, padahal terdapat momen lucu saat mereka bertengkar membahas perceraian setelah 50 tahun menikah. Jika ditambah dengan latar musik komedi, barangkali adegan tersebut bisa mencuri perhatian penonton. Selain itu, momen Nenek memberikan nasihat juga bisa dikemas menjadi adegan yang menggemaskan. Bagaimana mungkin Nenek yang baru saja minta cerai kepada suaminya bisa memberikan nasihat tentang perceraian bukanlah jalan keluar? Seharusnya di situlah letak menariknya drama ini, tetapi belum diekseskusi dengan baik.


Kepanikan yang terjadi sebab ada anggota keluarga yang hilang.


Terima kasih kepada sutradara dan semua pemain (yang telah disebutkan sebelumnya) serta kru yang bertugas: Serli Rahayu (penata musik); Theresa Agil L. Tobing (penata busana dan rias);  Siti Aisyah Suhanda Zein, Nurul Fadillah, Dwi Herlina, Miftahul Khairiyah (desain properti); Windy Muliani (penata cahaya). Terus belajar, ya!


Refleksi Mata Kuliah Apresiasi Drama Indonesia

Ini merupakan kedua kalinya kami mengadakan pementasan drama sebagai projek akhir mata kuliah. Proses pembelajaran dibagi dalam dua fokus: sebelum UTS mahasiswa mempelajari teori drama dan praktik analisis naskah; setelah UTS mahasiswa mempelajari teori pertunjukan teater dan berlatih dalam kelompok. 

Selama dua bulan mahasiswa mempersiapkan pementasan drama: mengenal olah vokal, olah rasa, dan olah tubuh; menafsirkan naskah dalam bentuk dialog; berinteraksi dengan sesama pemain; mengatur properti, musik, dan busana serta riasan. Pada akhirnya, pementasan berhasil dilaksanakan sebagai hasil kerja keras mereka. 

Silakan tulis refleksi Anda terhadap mata kuliah ini di kolom komentar!



Komentar

  1. Selama satu semester mengikuti mata kuliah Apresiasi Drama, saya memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan baru tentang dunia drama, mulai dari memahami unsur--unsur drama, teknik pementasan, hingga cara mengapresiasi sebuah pertunjukan secara lebih mendalam. Mata kuliah ini tidak hanya memberikan pemahaman teori, tetapi juga melatih kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, dan mengekspresikan diri.

    Pementasan di akhir perkuliahan menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena memberikan kesempatan untuk menerapkan materi yang telah dipelajari secara langsung. Melalui proses latihan hingga pertunjukan, saya belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan pentingnya kerja sama tim. Meskipun terdapat berbagai tantangan selama persiapan, pementasan dapat berjalan dengan baik dan menjadi penutup yang bermakna bagi perkuliahan Apresiasi Drama.

    BalasHapus
  2. Dari mata kuliah Apresisasi Drama Indonesia saya belajar banyak, terutama bagaimana caranya kita memahami naskah drama.
    Selama proses latihan kami melalui banyak hal dan itu adalah proses yang memeberikan banyak pelajaran. Terutama dalam dunia drama Indonesia.
    Selama menjalani proses latihan saya merasakan tonggak utama berada pada sutradara. Memiliki sutrada yang penyabar, selalu mengarahkan jalannya latihan drama. Tentunya pasti ada kekurangan, egois masing-masing yang merasa telah melakukan segalanya padahal bagian dari tanggungjawabnya tidak dikerjakan. Tapi itulah tantangan yang harus dihadapi dalam grup atau kelompok.
    Bagi saya selama memerankan karakter nenek tentu banyak kesulitan, tapi arahan sutradara membuat saya yakin dan percaya diri. Serta partner saya Lelaki Separuh Baya yang membuat karakter kami saling hidup. Seerta pemain lain yang hebat

    Terimakasih dosen pengampu mata kuliah Apresiasi Drama ibu Dewi Syafrina yang telah membimbing kami.

    Walaupun sudah lega karena pementasan telah selesai, namun terasa ada yang hilang dari kebiasaan sehari-hari saya. Saya merindukan mereka tim kelompok saya "Petang Di Taman"

    BalasHapus
  3. Nadia Zulfahrita Putri12 Juni 2026 pukul 11.18

    Alhamdulillah, senang sekali rasanya mempunyai pengalaman yang berkesan melalui adaptasi naskah Petang di Taman. Proyek UAS mata kuliah Apresiasi Drama ini terasa sangat menyenangkan, karena kami dapat belajar mengenai seni pertunjukan. Selain terkait pembelajaran, kami juga merasakan kekeluargaan melalui garapan yang kurang lebih 2 bulan dilaksanakan. Saya selaku sutradara mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Dr. Dewi Syafrina, M.Pd. selaku dosen pengampu. Terima kasih juga saya haturkan kepada para kru dan aktor Petang di Taman yang telah berjuang menyukseskan garapan hingga akhir pementasan, kalian semua keren!🤩❤️

    BalasHapus
  4. Sebagai bagian dari kru dalam pementasan teater UAS mata kuliah Apresiasi Drama Indonesia ini, saya mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran yang berharga. Selama proses persiapan hingga pementasan, saya belajar pentingnya tanggung jawab, kerja sama, dan komunikasi yang baik dalam sebuah tim. Ini mengajarkan saya bahwa keberhasilan sebuah pertunjukan tidak hanya ditentukan oleh aktor di atas panggung aja, tetapi juga dari kerja keras kru di balik layar. Selain itu, kekompakan yang terjalin selama proses berlangsung menumbuhkan rasa persaudaraan dan kebersamaan yang kuat di antara kami. Saya sangat senang mata kuliah ini karena memberikan pengalaman yang tidak hanya menambah wawasan tentang drama, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan sosial juga.

    BalasHapus
  5. Mata kuliah Apresiasi Drama menjadi salah satu mata kuliah yang memberikan banyak pengalaman dan kenangan selama semester ini. Pada proyek akhir ini, senang rasanya bisa berkesempatan menjadi bagian kru dari pementasan drama adaptasi naskah Petang di Taman yang dipersiapkan selama kurang lebih dua bulan. Saya mengambil peran di bagian perlengkapan/properti sehingga dapat melihat secara langsung bagaimana proses sebuah pementasan dipersiapkan dari balik layar. Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Dewi Syafrina, M.Pd. yang telah membimbing dan memberikan banyak ilmu selama perkuliahan berlangsung. Terima kasih juga saya sampaikan kepada seluruh kru dan aktor Petang di Taman yang telah bekerja sama, saling mendukung, dan berjuang bersama hingga pementasan dapat berjalan dengan baik.

    Selama mengikuti mata kuliah ini, saya tidak hanya belajar tentang unsur-unsur drama dan seni pertunjukan, tetapi juga belajar mengenai tanggung jawab, komunikasi, dan pentingnya kerja sama dalam sebuah tim. Proses persiapan hingga pementasan memberikan banyak pengalaman berharga yang tidak bisa didapatkan hanya melalui teori di kelas. Meskipun terdapat berbagai tantangan selama proses berlangsung, semuanya dapat dilalui berkat kekompakan dan kerja keras seluruh tim. Oleh karena itu, mata kuliah Apresiasi Drama menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan memberikan banyak pelajaran yang akan selalu saya ingat.

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah, selama dua bulan penuh kami menyiapkan pementasan drama ini, akhirnya dapat membuahkan hasil yang baik. Sutradara, para aktor, dan seluruh kru bekerja keras untuk menunjukkan hasil yang maksimal dalam pementasan ini. Keberhasilan ini hasil dari kerja sama dari tim yang solid. 😊
    Saya tidak akan pernah melupakan kenangan ini. Kalian semua hebat! Terima kasih teman-teman Petang di Taman kelas A.

    BalasHapus
  7. Sebagai seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2024 yang terlibat langsung dalam kegiatan teater, saya sangat bangga dan senang sekali, karena melalui kegiatan ini saya mendapat banyak pelajaran, mulai dari cara mengkoordinasikan kelompok yang sebelumnya Saya belum pernah sama sekali menjadi ketua kelompok. Saya juga berterima kasih kepada dosen pengampu ibu Dr. Dewi Syafrina, M. Pd. yang telah bersedia mendampingi dan memberi arahan pada Saya tentang teknik-teknik berlakon di panggung. Melalui evaluasi ini, Saya menyadari ada beberapa kesalahan dan kekhilafan kami dalam menata rias dan pakaian pemain Preh. Untuk itu, evaluasi ini Saya jadikan sebagai bahan perbaikan untuk ke depannya.

    BalasHapus
  8. Setelah mengikuti perkuliahan Apresiasi Drama, saya banyak memperoleh pengalaman dan belajar mengenai pementasan drama. Pada penampilan drama "Preh" inilah pengalaman pertama saya menjadi kru lighting. Dari pengalaman tersebut saya menyadari ternyata menjadi kru lighting itu tidak mudah tetapi saya merasa lega karena akhirnya pementasan drama "Preh" akhirnya selesai berkat kerja sama sutradara, aktor, dan kru kelompok "Preh".

    BalasHapus
  9. Arwa Frista Fadilla12 Juni 2026 pukul 13.16

    Senang sekali rasanya bisa menjadi bagian dari Lakon Preh. Menjadi peran pendukung dalam adaptasi naskah ini bukan hal yang mudah bagi saya. Mungkin ada yang mengatakan bahwa ini hanyalah peran kecil saja, tapi bagi saya ini adalah peran yang sangat-sangat besar. Selama dua bulan lebih latihan untuk mempersiapkan pementasan, banyak sekali suka maupun duka yang kami alami. Terimakasih kepada diri saya sendiri yang telah berusaha semaksimal mungkin untuk pementasan drama ini🥰. Terimakasih kepada Ibu Dr. Dewi Syafrina, M.Pd. yang telah membimbing dan mengarahkan kami selama proses pembelajaran Apresiasi Drama Indonesia. Terimakasih juga kepada sutradara terbaik kami yaitu Dewi Sartika dan pemeran utama (Nadhisya, Dzakiya, Laura, dan Dian), kru (Manda, Gadisa, Fani, Hasnah, Nabila, dan Bunga) dan pemeran pendukung (Aulia, Hanifah, Hapsah, Gita dan Kisra). Pokoknya terbaik untuk kita semua 🫶🫶

    BalasHapus

Posting Komentar